Bagaimana Bunyi Terjadi?

Bermacam-macam bunyi kita dengar setiap hari. Ada bunyi yang enak didengar seperti musik dan lagu, tetapi ada juga bunyi yang tidak enak didengar seperti suara petasan dan piring pecah.
Bagaimana terbentuknya bunyi? Mari kita lakukan percobaan di bawah ini agar lebih jelas. Bunyi dihasilkan oleh benda yang bergetar. Ketika penggaris dipetik, penggaris bergetar. Getaran itu menghasilkan bunyi. Seperti juga gitar dan kecapi. Ketika tali senar gitar kita petik maka tali senar tersebut bergetar. Getaran ini menghasilkan nada-nada yang kita kehendaki. Perhatikan suara bedug ketika dipukul. Suara dari bedug juga berasal dari getaran kulit bedug. Suara yang kita keluarkan saat berbicara juga hasil dari getaran. Pada saat berbicara, pita suara yang terdapat di dalam tenggorokan kita bergetar. Sekarang coba peganglah tenggorokanmu. Kemudian berbicaralah dengan temanmu. Tenggorokanmu bergetar, bukan? Jadi, bunyi-bunyi tersebut memang dihasilkan oleh getaran. Perhatikan saat lebah yang terbang di dekatmu. Ketika lebah terbang, ia mengeluarkan suara dengungan. Dari manakah asal suara itu? Suara yang dikeluarkan lebah bukan dari mulut lebah, tetapi berasal dari getaran sayap lebah yang sangat cepat.[1]
Besar atau kecilnya bunyi  yang dihasilkan dipengaruhi faktor berikut.
a. Jarak sumber bunyi terhadap penerima.
b. Kuat atau lemahnya getaran yang di hasil kan.
c. Energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan benda.
d. Jenis benda yang bergetar.[2]
Bunyi dinyatakan dalam getaran. Banyak getaran yang terjadi dalam satu detik disebut kekerapan atau  frekuensi. Tinggi rendahnya bunyi tergantung pada tingginya rendahnya frekuensi. Bunyi yang frekuensinya teratur disebut nada. Bunyi yang frekuensinya tidak teratur disebut desah. Telinga manusia memiliki keterbatasan untuk mendengarkan bunyi. Telinga manusia bisa menerima bunyi yang frekuensinya berkisar antara 20 sampai 20.000 getaran per detik (hertz). Bunyi ini disebut audiosonik. Bunyi yang frekuensinya kurang dari 20 getaran per detik (hertz) disebut infrasonik. Bunyi ini hanya didengar oleh hewan tertentu misalnya jangkrik dan kecoa. Bunyi yang frekuensinya lebih dari 20.000 getaran per detik disebut ultrasonik. Bunyi ini hanya dapat didengar oleh hewan tertentu misalnya kelelawar dan lumba-lumba.
Suara yang kita keluarkan bisa kuat dan bisa lemah. Jika kita berbisik, berarti kita mengeluarkan bunyi yang lemah. Jika kita berteriak, berarti kita mengeluarkan bunyi yang kuat. Kuat lemahnya bunyi dipengaruhi oleh besar kecilnya simpangan getaran. Besar kecilnya simpangan getaran disebut amplitudo.[3]
2. Perambatan Bunyi
Bunyi dapat kita dengar dari sumber bunyi karena adanya rambatan. Rambatan tersebut terjadi  karena adanya getaran pada benda yang menjadi sumber bunyi. Bunyi dapat merambat melalui benda padat, cair, dan udara. Untuk lebih jelasnya perhatikan uraian berikut ini!
a. Bunyi merambat melalui zat padat
Apabila kita sedang berjalan di atas rel, kita dapat mendengar bunyi kereta yang bergerak dengan cara mendekatkan telinga kita pada rel tersebut. Hal ini disebabkan karena bunyi kereta api tersebut mengalami perambatan melalui rel yang merupakan zat padat.
2. Bunyi merambat melalui zat cair
Selain dapat merambat melalui zat atau benda padat, bunyi juga dapat merambat melalui zat cair.
c. Bunyi merambat melalui udara
Udara merupakan perantara yang dapat menyebabkan bunyi dapat kita dengar. Kita dapat mendengar bunyi bel yang ada di sekolah karena bunyi tersebut merambat melalui udara dan sampailah ke telinga kita. Bunyi tidak dapat merambat di dalam ruangan yang hampa udara.
d. Bunyi dapat dipantulkan dan diserap
Apabila mengenai benda yang permukaannya cukup keras, bunyi akan dipantulkan. Pernahkah kamu berteriak di dalam ruangan kosong yang dikelilingi oleh tembok? Jika kamu berteriak di dalam ruangan tersebut maka suara kita seolah-olah ada yang menirukan. Hal ini disebabkan karena suara yang keluar akan dipantulkan oleh dinding sehingga menimbulkan gaung. Gaung merupakan pantulan bunyi yang terdengar kurang jelas karena bunyi yang dihasilkan dari pemantulan bercampur dengan bunyi asli.
Lain halnya ketika kita berteriak di depan tebing yang cukup jauh jaraknya. Maka suara yang dipantulkan oleh tebing terdengar seperti suara aslinya. Pantulan bunyi seperti ini dikenal dengan gema. Jadi, gema adalah bunyi pantul yang terdengar setelah bunyi asli selesai dibunyikan. Selain dapat dipantulkan, bunyi juga dapat diserap oleh benda. Apabila kalian masuk ke dalam ruangan pertunjukkan film atau bioskop maka suara yang terjadi di dalam bioskop tidak dapat didengar dari luar. Hal ini disebabkan karena dinding bioskop dilapisi bahan yang dapat menyerap bunyi.[4]
Kita dapat mendengar bunyi ketukan di atas meja. Bunyi yang berasal dari dalam air pun dapat kita dengarkan. Mengapa? Kita dapat mendengar bunyi karena gelombang bunyi merambat melalui zat perantara. Zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat atau gas (udara). Jadi gelombang bunyi dapat merambat baik di air, batu, dinding, kayu, maupun udara. Bunyi merambat di udara dengan kecepatan 1.224 km/jam. Namun di air bunyi merambat jauh lebih cepat yaitu 5.400 km/jam


[1] Choirul Amin dan Amin Priyono, Ilmu Pengetahuan Alam 4, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009, hlm. 148

[2] Mulyati Arifin, Ilmu Pengetahuan Alam 4, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009, hlm. 79

[3] Aprilia dan Afifatul Achyar, Ilmu Pengetahuan Alam 4, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009, hlm. 136
[4] Edi Sulistyanto dan Heri Wiyono, , Ilmu Pengetahuan Alam 4, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009, hlm. 127

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bagaimana Bunyi Terjadi?"

Post a Comment