Pembagian Air dalam Ilmu Fiqih

Air dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
1. Air mutlak, yaitu air suci dan mensucikan serta tidak makruh memakainya. Air ini dinamakan air mutlak.
Air mutlak dapat digunakan untuk menghilangkan hadas dan najis. Terdapat beberapa definisi mengenai air mutlak. Air mutlak merupakan air yang dalam penyebutannya terlepas dari segala ikatan yang sifatnya tetap. Dengan demikian air mani tidak bisa digolongkan sebagai air mutlak sebab di dalam Alquran disebutkan bahwa air mani sebagai air yang hina. Dalam ayat lain disebutkan bahwa air mani sebagai air yang memancar.
Air mawar juga tidak bisa disebut sebagai air mutlak karena sebutan mawar tidak bisa dipisahkan dari air.
Sedangkan air sungai dan sebagainya masih termasuk air mutlak sebab sebutan sungai masih bisa dipisahkan dari air itu sendiri. Air sungai ketika sudah diambil dan ditempatkan dalam sebuah tempat tertentu maka air tersebut sudah tidak disebut air sungai lagi. Adapun air mani dan air mawar dimana saja air tersebut ditempatkan namanya masih tetap air mani dan air mawar.
Berdasarkan definisi yang lain air mutlak adalah air yang tetap sesuai keadaan aslinya. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa air mutlak adalah apa saja yang disebut air.
2. Air musyammas
Air musyammas merupakan air yang panas karena terkena sinar matahari. Air musyammas adalah air suci sebab tidak terkena najis. Air musyammas juga mensucikan, yaitu dapat menghilangkan hadas dan najis karena masih tetap dapat disebut sebagai air mutlak.
Bagaimana hukumnya menggunakan air musyammas?
Menurut Imam Rofi'i air tersebut makruh digunakan untuk bersuci. Pendapat tersebut didasari oleh sebuah riwayat bahwa Rasulullah telah melarang Aisyah menggunakan air tersebut dan beliau bersabda bahwa air panas yang terkena sinar matahari dapat menimbulkan penyakit belang.
Sahabat Umar juga tidak suka menggunakan air musyammas dan menyatakan bahwa air musyammas dapat menimbulkan penyakit belang.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa memakai air musyammas untuk bersuci tidak dimakruhkan kecuali dengan dua syarat yaitu:
1. Air yang dipanaskan pada sinar matahari dan ditempatkan dalam bejana yang terbuat dari logam seperti tembaga, besi, maupun timah. Hal ini dikarenakan sinar matahari  yang mengenai bejana dapat mengeluarkan zat dalam air di mana zat ini dapat menimbulkan penyakit.
2. Pemanasan air dilakukan di negara yang beriklim panas bukan di negara yang beriklim dingin atau sedang karena pada negara yang beriklim dingin atau sedang pengaruh panas sinar matahari sangat lemah.

Mengenai hukum makruh tidak ada perbedaan antara adanya unsur kesengajaan untuk memanaskan air tersebut pada sinar matahari atau tidak.
Adapun penggunaan air telaga dan air kolam yang terkena panas sinar matahari, tidak ada perbedaan ulama dalam hal itu. Hukum bersuci menggunakan air telaga atau air kolam yang terkena panas sinar matahari tidak makruh.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pembagian Air dalam Ilmu Fiqih"

Posting Komentar