Isra' Mi'raj dan Perkembangan Teknologi

Sahabat Ikhlas Beramal, di penghujung Bulan Rajab ini admin akan membahas tentang Isra’ Mi’raj. Semoga kita semua mendapatkan keberkahan Bulan Rajab sehingga Allah memberikan kekuatan iman dan taqwa untuk menyambut datangnya Ramadan mulia. Amin.

14 abad yang lalu, yang mulia Nabi Muhammad S.A.W. mengalami peristiwa luar biasa yang disebut dengan Isra’ Mi’raj. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran Surat Al Isra’ ayat 1 bahwa ISra’ adalah perjalanan Rasulullah S.A.W di malam hari dari Masjidil Haram yang terletak di Kota Mekah, Saudi Arabia, ke Masjidil Aqsa yang terletak di negara Palestina. Perjalanan ini berlangsung sangat singkat.

Setelah diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian Rasulullah dibawa naik oleh Allah ke Baitul Mkamur di langit lapis tujuh. Setelah itu dibawa ke Sidratil Muntaha, ke Arsy untuk menerima wahyu untuk melaksanakan salat lima waktu. Intinya, perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pada malam hari disebut Isra’, sedangkan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsa ke Sidratil Muntaha disebut Mi’raj.

Menurut para ulama’, peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi satu tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Beberapa saat setelah Khadijah istri Rasulullah dan juga Abu Thalib paman Rasulullah wafat. Empat belas abad lalu belum tercipta alat transportasi secanggih zaman ini, namun Rasulullah telah mengalaminya. Jarak yang sangat jauh tersebut hanya ditempuh dalam semalam, sungguh ini di luar logika. Dan kejadian ini nyata, Rasulullah secara jasad memang mengalaminya, bukan sekedar mimpi belaka. Allah telah menjelaskan dalam Al Quran bahwa saat itu Rasulullah benar-benar sampai ke Sidratil Muntaha. Penjelasan Allah tersebut terdapat dalam Al Quran Surat An Najm ayat 13-18.

Sebagai umat Islam kita harus yakin dengan kebenaran Isra’ Mi’raj, sebab bukan hanya dikisahkan dari mulut ke mulut namun nyata tertulis di dalam Al Quran. Namun demikian, di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai kejadian Isra’ Mi’raj ini, yaitu tentang waktu dan cara terjadinya. Mengenai tahun terjadinya Isra’ Mi’raj, Anas dan Hasan Basri berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 13 tahun sebelum hijrah, atau bahkan sebelumnya. Tepatnya sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Akan tetapi pendapat yang paling masyhur mengenai terjadinya Isra’ mi’raj di kalangan umat Islam adalah malam tanggal 27 Rajab tahun 1 sebelum hijrah.

Adapun mengenai terjadinya Is’ra’ Mi’raj secara teknis para ulama pun berbeda pandangan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi atas diri Nabi Muhammad dalam keadaan sadar yang dialami oleh jasad maupun ruhnya, bukan sekedar mimpi sewaktu tidur. Alasan dari para ulama yang berpendapat demikian adalah sebagai berikut:
  1. Kata subhana, yang berarti Maha Suci, dalam permulaan ayat menunjukkan makna kagum. Kekaguman hanya akan terjadi pada sesuatu yang istimewa dan di luar kebiasaan. Jika Isra’ Mi’raj hanyalah sebuah mimpi maka bukanlah sesuatu yang besar dan patut untuk dikagumi.
  2. Kata ‘abdahu yang artinya hambanya menunjukkan arti jasad dan ruh.
  3. Dalam Al Quran Surat Al Isra’ ayat 60 terdapat kata ar Ra’yu yang diartikan sebagai penglihatan mata. Dari ayat tersebut jelaslah bahwa Isra’ Mi’raj adalah ruh dan jasad, bukan sekedar mimpi sebab penglihatan adalah anggota tubuh.
  4. Isra’ Mi’raj yang terjadi dalam waktu cepat itu sangat mungkin terjadi sebab di masa-masa sebelumnya juga terjadi hal serupa kepada Nbi Sulaiman. Ia dibawa oleh angin ke beberapa tempat dalam waktu yang sangat singkat. Peristiwa tersebut dikisahkan dalam Al Quran Surat Saba’ ayat 12. Selain itu, sahabat Nabi Sulaiman bernama Asif bin Barkhiya pernah memindahkan istana Rabu Bilqis karena mendapat karunia dari Allah. Hal ini dikisahkan dalam Al Quran surat An Naml ayat 40.
Adapun para ulama yang berpendapat bahwa Isra’ Mi’raj terjadi hanya para Ruh Nabi Muhammad saja mereka beralasan sebagai berikut:
  1. Kata ar ru’ya pada Al Quran surat Al Isra’ ayat 60 diartikan sebagai mimpi.
  2. Kecepatan yang luar biasa tersebut sangat tidak masuk akal jika dialami oleh ruh disertai jasad.
  3. Naik ke ruang hampa dengan jasad itu mustahil, sebab di sana tidak ada udara, jadi tidak mungkin bertahan hidup karena tidak dapat bernafas.

Adapun hikmah Isra’ Mi’raj yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah:
  1. Dengan terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj maka kita memperoleh kewajiban menjalankan salat lima waktu sebagai sarana komunikasi langsung dengan Allah S.W.T.
  2. Betapa majunya ilmu pengetahuan namun tetap tidak akan mampu menyaingi hebatnya ilmu Allah, sehingga peristiwa Isra’ Mi’raj sulit dipahami oleh akal manusia.
  3. Allah telah menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya kepada Nabi Muhammad dan menjadi pelajaran bagi umat Islam.
  4. Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, di mana manusia bisa pergi ke suatu tempat yang jauh dalam waktu singkat serta menjelajah ke luar angkasa, dapat meyakinkan kita mengenai kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj dan menambah keimanan kita kepada Al Quran.


Wallahu a’lam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Isra' Mi'raj dan Perkembangan Teknologi"

Post a Comment